Pembesaran prostat pd pria lanjut usia

Hallo Dokter Edisi Selasa 25 Juni 2019 Bersama dr.Novi, Sp.B

BPH (Benign Prostatic Hyperplasia) Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak adalah kondisi ketika kelenjar prostat mengalami pembengkakan, namun tidak bersifat kanker. Kelenjar prostat merupakan sebuah kelenjar berukuran kecil yang terletak pada rongga pinggul antara kandung kemih dan penis. Kelenjar prostat menghasilkan cairan yang berfungsi untuk menyuburkan dan melindungi sel-sel sperma. Pada saat terjadi ejakulasi, prostat akan berkontraksi sehingga cairan tersebut akan dikeluarkan bersamaan dengan sperma, hingga menghasilkan cairan semen.

Berikut ini gejala-gejala yang biasanya dirasakan oleh penderita pembesaran prostat jinak (BPH):

  • Selalu ingin berkemih, terutama pada malam hari.
  • Nyeri saat buang air kecil.
  • Inkontinensia urine atau beser.
  • Sulit mengeluarkan urine.
  • Mengejan pada waktu berkemih.
  • Aliran urine tersendat-sendat.
  • Mengeluarkan urine yang disertai darah.
  • Merasa tidak tuntas setelah berkemih.

Munculnya gejala-gejala tersebut disebabkan oleh tekanan pada kandung kemih dan uretra ketika kelenjar prostat mengalami pembesaran.

Konsultasi pada dokter disarankan jika seseorang merasakan gejala BPH, meski ringan. Pemeriksaan sangat diperlukan mengingat ada beberapa kondisi lain yang gejalanya sama dengan BPH, di antaranya:

Penyebab BPH

Sebenarnya penyebab persis pembesaran prostat jinak (BPH) masih belum diketahui. Namun kondisi ini diperkirakan terjadi karena adanya perubahan pada kadar hormon seksual akibat proses penuaan.

Secara umum, prostat akan terus tumbuh seumur hidup. Pada beberapa kasus, prostat akan terus berkembang dan mencapai ukuran yang cukup besar sehingga secara bertahap akan menghimpit uretra. Uretra yang terjepit ini menyebabkan urine susah keluar, sehingga terjadilah gejala-gejala BPH seperti yang telah disebutkan di atas.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena BPH adalah:

  • Kurang berolahraga dan obesitas.
  • Faktor penuaan.
  • Menderita penyakit jantung atau diabetes.
  • Efek samping obat-obatan penghambat beta (beta blockers).
  • Keturunan.

    Pengobatan BPH

    Penanganan BPH berbeda-beda pada setiap penderitanya. Dokter akan memilih jenis penanganan yang paling sesuai berdasarkan beberapa faktor seperti:

    • Kondisi kesehatan penderita secara umum.
    • Tingkat ketidaknyamanan yang dirasakan oleh penderita.
    • Usia penderita.
    • Ukuran prostat.

    Penanganan pembesaran prostat jinak (BPH) sendiri dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu penanganan BPH dengan gejala ringan dan penanganan BPH dengan gejala sedang hingga parah.

    BPH ringan biasanya cukup ditangani dengan obat-obatan, terapi menahan berkemih, dan perubahan gaya hidup.

    Obat-obatan

    Obat BPH yang sering digunakan adalah dutasteride dan finasteride. Obat yang mampu menurunkan ukuran prostat dan meredakan gejala BPH ini bekerja dengan cara menghambat efek dari hormon dihidrotestosteron. Namun penggunaan kedua obat ini tidak boleh sembarangan dan harus melalui petunjuk dari dokter karena memiliki efek samping yang cukup serius. Beberapa efek samping dari dutasteride dan finasteride adalah turunnya kuantitas sperma, impotensi, dan risiko cacat bayi jika penderita menghamili perempuan saat sedang menjalani pengobatan dengan kedua obat ini.

    Selain dutasteride dan finasteride, obat BPH lainnya yang juga sering digunakan adalah golongan penghambat alfa, seperti alfuzosin dan tamsulosin. Obat penghambat alfa ini biasanya dikombinasikan dengan finasteride. Obat ini mampu memperlancar laju urine dengan cara melemaskan otot-otot kandung kemih. Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi alfuzosin dan tamsulosin adalah badan lemas, sakit kepala, dan turunnya kuantitas sperma. Sedangkan efek samping yang lebih serius dari kedua obat ini adalah berupa risiko terjadinya hipotensi (tekanan darah rendah) atau bahkan pingsan.

    Selain obat-obatan di atas, dokter juga dapat meresepkan obat disfungsi ereksi, seperti tadalafil, untuk menangani kasus pembesaran prostat yang menyebabkan penderitanya mengalami disfungsi ereksi.

    Terapi menahan kemih

    Terapi ini dilakukan di bawah bimbingan medis. Di dalam terapi ini pasien akan diajarkan bagaimana cara menahan keinginan berkemih setidaknya dalam jeda waktu dua jam antara tiap berkemih, termasuk diajarkan bagaimana cara mengatur pernapasan, mengalihkan pikiran ingin berkemih, serta relaksasi otot.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Direktur RSUD Sunan Kalijaga Demak

dr. Deby Armawati Sp.M

IKUTI

masukkan komentar

    Contact Us